Penulis Alami

Sejak menjadi blogger, dan mulai istiqomah menulis di blog, saya seringkali mendapatkan pertanyaan: bun ajarin nulis donk, bun aku banyak ide di kepala tapi begitu mau dituangkan dalam bentuk tulisan kok jadi macet, mbak aku pingin banget nulis tapi nggak bisa, bun merangkai kata-kata itu biar nggak mbulet itu gimana sih dan berbagai pertanyaan lain yang senada.


Menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini, saya senyum  aja. Apa pasal? ya, karena pertanyaan-pertanyaan itu juga menghinggapi saya. Pun hingga kini, ketika saya telah mulai lancar dalam menangkap ide-ide yang membanjiri kepala untuk dijadikan sebuah tulisan.  Ya, pertanyaan ini memang sudah menjadi penyakit yang jamak "diderita" oleh para penulis baik penulis profesional, penulis senior, penulis amatir lebih-lebih penulis pemula :).


Sebenarnya hanya satu saja solusi dari semua pertanyaan tersebut, yaitu menulis, menulis dan terus menulis.


Well, membahas perihal tulis menulis nih ya....Sebenarnya untuk menulis, seseorang tak harus menjadi penyair, pujangga atau sastrawan. Tahu nggak sih, disadari atau tidak, sejatinya secara alami setiap orang adalah penulis, karena setiap manusia pasti akan "menulis" cerita hidupnya sendiri.  Oleh karenanya menulis adalah kemampuan yang harus terus dilatih.


Di negara kita, budaya lisan lebih kuat daripada budaya menulis. Masyarakat lebih banyak menggunakan budaya tutur dalam menyampaikan informasi. Dalam masyarakat muncul anggapan, penulis yang top masih kalah hebat dengan seorang pembicara yang handal. Budaya yang sudah mendarah daging ini tidak mudah digeser karena mindset masyarakat yang sudah terbentuk sejak dahulu kala.


Oleh karena itu, tidak banyak karya yang dihasilkan anak bangsa jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Padahal jika aktifitas menulis ini dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberi banyak manfaat. Apa saja?


1. Menemukan masalah. Dengan menuliskan beragam masalah yang melanda dalam hidup ini, setidaknya kita bisa mengetahui masalah apa saja yang sebenarnya terjadi. Biasanya cepat atau lambat timbul pemikiran untuk mencari solusinya juga.


2. Memotivasi diri sendiri. Menuliskan cita-cita, impian, angan-angan di sebuah buku harian terbukti bisa memotivasi penulisnya untuk merealisasikan. Terbukti banyak revolusi besar di dunia bermula dari tulisan-tulisan pena penulisnya.


3. Memberi efek positif bagi kesehatan jiwa dan otak. Menuliskan berbagai peristiwa kurang menyenangkan bisa dilakukan sebagai terapi untuk menumpahkan uneg-uneg, sehingga perasaan menjadi lega dan stress pun enyah jauh. Menurut James Pennebaker, peneliti dari Universitas Texas, menulis bisa memperkuat sel-sel kekebalan tubuh yang dikenal sebagai T-lymphocytes. Pennebaker juga menyampaikan menuliskan peristiwa yang penuh tekanan akan membantu kita memahaminya. Dengan begitu akan mengurangi penyebab stress terhadap kesehatan.


Nah melihat manfaat yang besar dari aktifitas menulis, sudah seyogyanya kita mulai membiasakan diri menulis. Sejatinya kemampuan berbicara dan mengungkapkan gagasan adalah bentuk tulisan yang belum berwujud.


Untuk memudahkan proses menulis, terutama bagi pemula, ada beberapa tips menulis yang mudah, ini pengalaman saya dan sepertinya juga pengalaman hampir semua penulis yaitu:


1. Menulis dari hal-hal yang paling terdekat dengan keseharian kita, yang paling sering kita lakukan dan alami, atau yang paling kita kuasai.

2. Memperbanyak membaca. Karena menulis dan membaca adalah ibarat kekasih yang tak bisa dipisahkan. Membaca itu menangkap gagasan sedangkan menulis adalah melempar gagasan. Dengan banyak membaca bisa menambah ide, pengetahuan dan perbendaharaan kata. Penulis yang baik adalah juga pembaca yang baik. Makanya itu sering kita bisa menilai kedalaman ilmu dan jiwa seseorang dari tulisan-tulisannya.

3. Amati gaya penulis favorit. Amati Tiru lalu Modifikasi atau yang sering disebut metode ATM (Amati Tiru Modifikasi). Contoh metode ATM ini adalah novel Negeri 5 Menara. Konon Novel Negeri 5 Menara lahir karena metode ATM dari Novel Laskar Pelangi dan hasilnya trilogi Negeri 5 Menara juga sama mendulang sukses.

Penting untuk memiliki penulis favorit yang bisa kita tiru gaya mereka dalam menulis. Meniru dalam arti positif ya, bukan plagiat. Say No to plagiat and Copas :). Yakin saja suatu saat kita pasti juga memiliki gaya penulisan yang khas.

Kalau saya pribadi, penulis favorit saya adalah Asma Nadia, Helvi Tiana, Dee Lestari, Dahlan Iskan, Fahd Pahdepie, Azrul Ananda, Kang Abik.

4. Menulis dan terus menulis. Menulis yang baik-baik.  Sama seperti keterampilan lainnya, menulis harus terus dilatih. Lama-kelamaan tulisan kita akan semakin baik dan bergizi.



Demikianlah, mari berliterasi karena sejatinya setiap orang adalah penulis alami.



Wallahua'lam

Malang, 20 Februari 2017

Bunda Farhanah
(Pegiat Literasi)


#onedayonepost
#Inspirasi
#SelfReminder




Comments

  1. Artikelnya menarik. Memang benar, yang penting adalah menulis, menulis dan menulis.

    #eh tapi aku belum bikin postingan di blog hari ini.

    #kebanyakan baca update status di fb

    ReplyDelete

Post a Comment