Review Buku: Trilogi Negeri Lima Menara, A. Fuadi



#HariSantri2017 #ReviewKaryaSantri #BulanBahasa #SantriPenulis #EmakPenulis


Review Buku: Trilogi Negeri Lima Menara, A. Fuadi

Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Mirna Yulistianti
Proofreader: Danya Dewanti
Desain dan Ilusrasi kover: Slamet Mangindan
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 422 halaman
Genre: Fiksi, Novel


Satu kata untuk mengungkapkan karya santri alumni Pondok Modern Gontor ini: KEREN!.

Tidak ada bosan-bosannya membaca halaman demi halaman novel yang terinspirasi dari kisah nyata sang penulis dan teman-temannya ketika menimba ilmu di Gontor ini. Gaya penulisan yang sehari-hari, sesekali diselingi kata-kata indah nan puitis, membuat saya ingin membacanya sampai akhir. Beberapa kata-kata mutiara juga banyak ditulis di sini. Sangat menggugah.

Penggunaan Pov 1 sangat membantu pembaca untuk menyelami apa yang sedang dialami sang tokoh.

Alif, tokoh utama, awalnya tak mau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren selepas dari MTs di kampungnya. Baginya pondok pesantren itu sama sekali tidak kekinian. Dia ingin melanjutkan di sekolah menengah umum lalu ke ITB. Namun sang ibu memaksa, apa daya akhirnya Alif menuruti perintah sang ibu walau dengan setengah hati.

Berangkatlah Alif menuju Pondok Pesantren yang berada di Ponorogo Jawa Timur itu. Meski Pondok pesantren Gontor adalah pondok modern dengan segela kelebihannya dan Alif segera menemukan teman-teman baru yang keren dan menyenangkan dari seluruh Nusantara, remaja tanggung itu tetap setengah hati menjalaninya.

Maka, selanjutnya bisa ditebak, hari-hari di pondok bagai penjara. Sampai akhirnya pelajaran yang membawa hikmah dan keajaiban itu datang. Alif menjadi betah dan mencintai segala hal tentang pondoknya. Ustad-ustadnya, kedisiplinannya, teman-temannya, kelasnya, kegiatan pondok, semua terasa menyenangkan. Apalagi Alif yang suka menulis catatan harian, hobinya menjadi tersalurkan dengan menjadi jurnalis di majalah Pondok. Kemampuannya menulis terasah di sini. Keahlian menulis yang kelak menjadikannya menjejak benua impiannya. Man Jadda Wajada.

Buku Trilogi Lima Menara ini terdiri dari tiga buku.

Buku pertama berjudul Negeri Lima Menara seperti yang telah disebut di atas.

Buku Kedua berjudul Ranah Tiga Warna.
Menceritakan perjuangan Alif yang anak pesantren untuk masuk di Universitas Pajajaran Bandung. Usahanya untuk menutupi biaya kuliah selama di Bandung. Lalu perjuangan untuk bisa ikut dalam program pertukaran pelajar ke Kanada. Juga diselipi kisah romansanya bersama seorang gadis. Kutipan yang menginspirasi dalam buku ini adalah Man Shabara Zafira.

Buku Ketiga berjudul Rantau Muara.
Menceritakan kisah Alif dalam memperoleh pekerjaan. Lalu mengejar impiannya yang bagi orang lain mustahil. Namun dengan pepatah Man Saara Ala Darbi Washala, Tak ada impian yang mustahil.


Pokoknya trilogi ini sarat pesan moral, termasuk berbakti pada orang tua itu akan terganjar maksimal sejak di dunia lebih-lebih di akhirat nanti.


Selamat membaca.






Comments